Oleh: Abdul Hakim & Yudi Wili Tama


Dikisahkan ada seorang Raja Persia bernama Kisra Anu Sirwan yang sedang melakukan inspeksi keliling desa bersama dengan pasukannya.

Tibalah mereka di suatu perkebunan, dan terlihat ada seorang kakek tua renta yang sedang menanam bibit zaitun.
Kisra pun memerintahkan para pasukannya untuk diam sementara sambil memperhatikan, kemudian ia mendekati kakek itu dan bertanya:

“Kek, untuk apa kamu menanam zaitun, sedangkan pohon ini tumbuh sangat lama, dan mustahil kalau kamu menjadikan ini sebagai mata pencaharian”

Lalu dengan tersenyum kakek itu menjawab dengan penuh hormat:

“Panglima yang mulia, orang sebelum kami menanam ini, lalu kami yang menikmati. Sekarang sudah waktunya, kami yang menanam dan orang setelah kami yang akan mengambil manfaat”

Tertegun lah Kisra, dan memberikan ucapan salut kepada-nya. Sudah menjadi kebiasaan orang-orang persia, jika seorang Raja memberikan salut, maka yang mendapatkan salut juga mendapatkan upah. Begitupun si kakek juga mendapatkan upah.

Kemudian, si kakek lagi-lagi berkata:

“Pohon zaitun ini memiliki kelebihan, ia mampu berbuah setahun dua kali, dibandingkan pohon yang lain”

Lagi-lagi, Kisra memberikan salut dan si kakek mendapatkan upah untuk ke-dua kalinya.

“Pohon zaitun ini juga memiliki manfaat yang banyak”, lanjut kakek itu.

Untuk ketiga kalinya, kisra memberikan salut dan si kakek mendapatkan upah. Namun pada kesempatab ketiga, Kisra memerintahkan pasukannya untuk bubar dan berkata:

“Kalau kita masih di sini, tidak cukup uang-ku untuk memberikan upah terus-terusan untuk kakek ini.”
********************************
Jika kata marhaenisme itu pertama kali dikeluarkan oleh mendiang presiden Soekarno, ketika ia kuliah di Bandung dan bertemu dengan seorang petani bernama Pak. Marhaen, yang memaparkan alasan dia bertani, untuk disimpan sendiri dan tidak untuk dijual. Dan Soekarno pun menjadikan namanya sebagai sebuah ideologi, bahwa apa yang dikelola sendiri harus bisa dinikmati untuk sendriri, begitupun kaitannya dengan hasil negara.

Namun prinsip marhaenisme yang diambil dari kisa Kisra di atas, bagi kaum santri khususnya Darussalam Bogor dan umumnya pesantren lainnya adalah, apa yang kita perbuat hari ini, merupakan warisan untuk generasi selanjutnya.

#Darussalam Bogor