Orang Cerdas; Menjadikan Kekeliruan Sebagai Jembatan Menuju Kesuksesan

Oleh: Yudi Wili Tama

Seyogyanya bagi kita untuk mengetahui bahwa tidak ada kerumitan yang bersifat nyata, melainkan hanya sebuah delusi atau khayalan yang dihembuskan oleh setan ke dalam diri kita. Hal ini justru mengarahkan kita ke arah kebodohan, kefakiran, dan kemalasan. Oleh karena itu, jika kita mendapatkan yang demikian dalam diri kita, tentunya rasa tersebut tidak boleh untuk kita turuti.
Allah ta’ala berfirman dalam surat an-nisa: 119-120;

وَمَنْ يَتَّخِذِ الشَّيْطَانَ وَلِيًّا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَقَدْ خَسِرَ خُسْرَانًا مُبِينًا
“Barang siapa yang menjadikan setan menjadi pelindung selain Allah, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata.”

يَعِدُهُمْ وَيُمَنِّيهِمْ وَمَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطَانُ إِلا غُرُورًا
“Setan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal setan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka.”

Sebaliknya, seorang Muslim harus memiliki motivasi, tekad yang kuat, serta kemampuan yang prima dengan menyertakan Allah. Patutlah jika ada seseorang yang telah bersungguh-sungguh dan mengeluarkan seluruh kemampuannya untuk pekerjaannya, atau santri untuk pelajarannya, melainkan dia pasti akan menuai hasilnya, dan ini merupakan sunatulllah. Hal ini memiliki konsekuensi logis dengan ketentuan Allah yang sesuai dengan kaidah:
فالله ربط الأسباب بالمسببات
“Allah swt menyertakan sebab (hasil) yang berkolerasi kepada musabab (proses) ”

Demikian pula seperti perkataan ulama salaf:
من جد وجد ومن زرع حصد
“Barang siapa yang bersungguh-sungguh dapatlah ia, dan yang menanam ia mengetam”

Lebih jauh lagi, setiap dari kita pasti pernah melakukan kekeliruan, namun jangan sampai hal ini membuat kita larut atau malah menularkan kepada orang selain kita. Justru orang cerdas menjadikan kekeliruannya sebagai jembatan menuju kesuksesan, karena dia telah mengetahui kesalahan yang harus ia hindari. Singkatnya kita harus optimis dalam mengarungi kehidupan kita;

Rasulullah saw bersabda,
كان النبي صلى الله عليه وسلم يعجبه الفأل الحسن ويكره الطيرة
“Rasulullah ta’jub dengan rasa optimis, dab membenci dengan rasa pesimis”.

Wallahu a’lam.