Oleh: Tresna Tulus Hadi & Yudi Wili Tama


Ibnu Malik Berkata:
واحده كلمة والقول عم # وكلمة بها كلام قد يؤم
“Tiap satu dari (personil Kalim) dinamakan Kalimat. Adapun Qaul adalah umum. Dan dengan menyebut Kalimat terkadang dimaksudkan adalah Kalam.”

Kalimah adalah satuan lafaz yang menunjukan makna mufrod atau tunggal, ia sendiri terbagi menjadi tiga macam:
1. Isim
2. Fi’il
3. Harfu ma’nan
Ketiga hal tersebut masuk ke dalam tarkib kalam. Namun dalam penyebutannya secara umum bisa disebut كلمة kilmah atau yang lebih umum disebut قول qaul.

Berikut adalah pemaparan dari kalimah:

1. Isim, merupakan kata yang menunjukan makna independen tanpa mengikuti tensis atau waktu, contoh:
الله مولاكم وهو خير الناصرين
Isim terbagi menjadi dua macam:

A. Isim mutasorif (yang bisa berubah tandanya) baik bentuk mutsana, jama’, ataupun tashgir, contoh:
فإن كانتا اثنتين فلهما الثلثان

Isim mutashorif sendiri terbagi menjadi dua; jamid dan musytaq:

~jamid bisa terbentuk dari, mashdar, ‘alam ataupun jenis contoh:
أم تقولون إن إبراهيم وإسماعبل وإسحاق ويعقوب والأسباط كانوا هودا أو نصارى

~musytaq bisa terbentuk dari fa’il atau maf’ul, contoh:
إن المسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات

B. Isim ghoiru mutashorif (yang tidak berubah tandanya), yaitu isim yang menunjukan hanya satu makna, seperti isim dhomir dan isyarah, contoh:
إن هذا لهو الفضل المبين

2. Fi’il, merupakan kata yang menunjukan suatu keadaan atau kejadian yang berkaitan dengan waktu, madhi atau lampau, hadhir atau sekarang, dan mustaqbal atau yang akan datang. Fi’il sendiri terbagi menjadi dua macam:

A. Fi’l Tam yang fa’ilnya berkontribusi dalam nisbah isnadiyah baik dalam bentuk lazim (intransitif) atau muta’adi (transitif), contoh:
– lazim:
فطال عليهم الأمد فقست قلوبهم
-muta’adi:
ضرب الله مثلا عبدا مملوكا

B. Fi’il Naqish (verba kompleks), tidak termasuk jenis musnad karena membutuhkan sebuah khabar untuk menyempurnakan maknanya, contoh:
إنه كان مخلصا وكان. رسولا نبيا

3. Harfu Ma’nan, merupakan kata yang menunjukan sebuah makna setelah penggunaanya yang disandarkan kepada isim dan fi’il, huruf sendiri terbagi menjadi dua:

A. Berfungsi sebagai ‘amil yang membuat perubahan terhadap i’rab isim dan fi’il, contoh:
إن الله لا يستحيي أن يضرب مثلا ما بعوضة

B. Ghoiru ‘Amil, tidak merubah i’rab isim atau fi’il, contoh:
أما أحدهما أن فيسقي ربه خمرا وأما الأخر فيصلب

#اللهم انفع بما علمتنا وارزقنا علوما نافعة وفهم النبيين (آمين)